| Narasumber Yusliani Noor & Moderator Abdani Solihin |
habarpalidangan.blogspot.co.id - Pengalaman sejarah bangsa Indonesia tidaklah
sama dengan bangsa-bangsa lainnya. Bangsa Indonesia lahir dari penjuangan yang
sangat melelahkan, dengan pengorbanan jawa, darah dan air mata. Begitu pula
dengan perang Banjar yang berlangsung 1859 – 1906 yang pula sangat melelahkan
dan penuh pengorbanan dari putera puteri terbaik tanah Banjar. Perjuangan yang sangat melelahkan itulah yang
membawa bangsa Indonesia pada kemerdekaan menjadi sebuah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang mempunyai nilai dasar Pancasila.
Sejarah Membuktikan bahwa Pancasila tidak terlahir
dengan seketika pada tahun 1945, tetapi membutuhkan proses penemuan yang lama,
dengan dilandasi oleh perjuangan bangsa dan berasal dari gagasan dan
kepribadian bangsa Indonesia sendiri.
Proses konseptualisasi yang panjang ini ditandai dengan berdirinya
organisasi pergerakan kebangkitan nasional, partai politik, dan sumpah pemuda.
Dari awal kelahirannya hingga sekarang
Pancasila bukan hanya menjadi Dasar Negara Republik Indonesia, namun juga
menjadi Pandangan hidup Bangsa, Identitas Bangsa, Kepribadian Bangsa,
perjanjian luhur rakyat, ideologi Bangsa, dan pemersatu Bangsa. Seiring
perjalanan perjalanan bangsa sampai hari ini Pancasila tetap menjadi Dasar
Negara Bangsa Indonesia walaupun akhir-akhir ini Pancasila sering mendapatkan
tantangan bahkan juga muncul tindakan-tindakan ideologi yang mencoba
menggantikan Pancasila.
Selama ini dikalangan Masyarakat Banjar
Pancasila tidak sedikit ditentang oleh masyarakatnya. Banua Banjar sangat
dikenal dengan wilayah religius yang begitu memegang teguh budaya dan menjunjung
tinggi perdamaian serta rasa persaudaraan. Dengan hal tersebut memang tak
diragukan lagi bahwa masyarakat Banjar sampai hari ini memegang teguh Pancasila
sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Yang menjadi tantangan hari ini ialah
bagaimana caranya untuk tetap mempertahankan semua ini, yakni mempertahaankan
kesetiaan masyarakat Banjar terhadap Pancasila.
Antara paparan yang beliau sampaikan ialah
tentang analisis ancaman terhadap Pancasila dan Keindonesiaan. Pertama, acaman
menguatkan sukuisme, kerana di tanah Banjar pergaulan sosial dan pendidikan
sangat terbuka hingga tak menutup kemungkinan adan terjadi gesekan-gesekan konflik
pergaulan yang membawa-bawa kesukuan. Kedua, Ancaman disintegritas. Walau tidak
terlalu ketara namun oknum-oknum yang berupaya memecah belah keindonesiaan
haruslah tetap diwaspadai, karena banyaknya intoleransi yang terjadi,
ketimpangan ekonomi, sosial dan persoalan politik. Ketiga, ancaman menguatnya
arus ideologi Islam. Paham-paham baru sering masuk melalui mahasiswa dan
oknum-oknum tertentu yang membawa paham untuk membentuk negara Islam. Keempat,
ancaman bentrok massa. Jika kepentingan politik, ekonomi dan pelanggaran adat
istiadat tidak terselesaikan. Kelima, dari luar dan dari kebijakan pemerintah
pusat. Lihat saja sejarah, berbagai ancaman terhadap ideologi Pancasila selalu
bersumber dari luar tanah Banjar, sebut saja DII/TII Ibnu Hadjar dari Jawa
Barat dab Sulawesi Selatan. PKI dari Pulau Jawa. Dan peristiwa Jum’at kelabu
pun sebenarnya bukan semata-mata berakar masalah di Banjarmasin.
Kegiatan Refleksi yang menghadirkan
beberapa tokoh Banua dan para tokoh agama-agama ini berlangsung pada Hari
Kamis, 01 Juni 2017, tepat pada Hari Lahir Pancasila dan bertempat di Kantor
LK3 jl. Soetoyo S, komp. Rajawali Banjarmasin. Dalam pembicaan selanjutnya
pemateri juga memaparkan beberapa solusi untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila
pada masyarkat di tanah Banjar. Pertama, penguatan kembali tokoh ulama, tokoh
agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Kedua, peranan LSM dan politik untuk
menciptakan masyarakat adil dan makmur, dimana rakyat merasa aman dan
dilindungi oleh negara. Kelima, harmonisasi dan dialog lintas agama. Keenam,
penguatan deteksi dini dan bahaya perpecahan bangsa. Ketujuh ialah pengendalian
berito Hoax di media sosial.
Penulis : Arif Riduan
Editor : Arif Riduan
Foto : Arif Riduan dan Ana Riskayanti
No comments:
Post a Comment