Palidangan ( LK3 )

Thursday, June 1, 2017

Meneguhkan Keindonesian dan Kemanusiaan Di Tanah Banjar; Refleksi Hari Lahir Pancasila


Narasumber Yusliani Noor & Moderator Abdani Solihin

habarpalidangan.blogspot.co.id - Pengalaman sejarah bangsa Indonesia tidaklah sama dengan bangsa-bangsa lainnya. Bangsa Indonesia lahir dari penjuangan yang sangat melelahkan, dengan pengorbanan jawa, darah dan air mata. Begitu pula dengan perang Banjar yang berlangsung 1859 – 1906 yang pula sangat melelahkan dan penuh pengorbanan dari putera puteri terbaik tanah Banjar.  Perjuangan yang sangat melelahkan itulah yang membawa bangsa Indonesia pada kemerdekaan menjadi sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai nilai dasar Pancasila. 

Sejarah Membuktikan bahwa Pancasila tidak terlahir dengan seketika pada tahun 1945, tetapi membutuhkan proses penemuan yang lama, dengan dilandasi oleh perjuangan bangsa dan berasal dari gagasan dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri.  Proses konseptualisasi yang panjang ini ditandai dengan berdirinya organisasi pergerakan kebangkitan nasional, partai politik, dan sumpah pemuda.

Dari awal kelahirannya hingga sekarang Pancasila bukan hanya menjadi Dasar Negara Republik Indonesia, namun juga menjadi Pandangan hidup Bangsa, Identitas Bangsa, Kepribadian Bangsa, perjanjian luhur rakyat, ideologi Bangsa, dan pemersatu Bangsa. Seiring perjalanan perjalanan bangsa sampai hari ini Pancasila tetap menjadi Dasar Negara Bangsa Indonesia walaupun akhir-akhir ini Pancasila sering mendapatkan tantangan bahkan juga muncul tindakan-tindakan ideologi yang mencoba menggantikan Pancasila.

Selama ini dikalangan Masyarakat Banjar Pancasila tidak sedikit ditentang oleh masyarakatnya. Banua Banjar sangat dikenal dengan wilayah religius yang begitu memegang teguh budaya dan menjunjung tinggi perdamaian serta rasa persaudaraan. Dengan hal tersebut memang tak diragukan lagi bahwa masyarakat Banjar sampai hari ini memegang teguh Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Yang menjadi tantangan hari ini ialah bagaimana caranya untuk tetap mempertahankan semua ini, yakni mempertahaankan kesetiaan masyarakat Banjar terhadap Pancasila. 

Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakat (LK3) merasa sangat perlu untuk merefleksikan kembali hari lahir Pancasila yang sampai hari ini menjadi pemersatu semua kalangan di Indonesia, khususnya di Banjarmasin. Dengan tema “ Meneguhkan Keindonesiaan dan Kemanusiaan di Tanah Banjar “ LK3 mengundang Sejarahwan Banua untuk menjadi pembicara refleksi kali ini, yakni Drs. Yusliani Noor, M.Pd.

Antara paparan yang beliau sampaikan ialah tentang analisis ancaman terhadap Pancasila dan Keindonesiaan. Pertama, acaman menguatkan sukuisme, kerana di tanah Banjar pergaulan sosial dan pendidikan sangat terbuka hingga tak menutup kemungkinan adan terjadi gesekan-gesekan konflik pergaulan yang membawa-bawa kesukuan. Kedua, Ancaman disintegritas. Walau tidak terlalu ketara namun oknum-oknum yang berupaya memecah belah keindonesiaan haruslah tetap diwaspadai, karena banyaknya intoleransi yang terjadi, ketimpangan ekonomi, sosial dan persoalan politik. Ketiga, ancaman menguatnya arus ideologi Islam. Paham-paham baru sering masuk melalui mahasiswa dan oknum-oknum tertentu yang membawa paham untuk membentuk negara Islam. Keempat, ancaman bentrok massa. Jika kepentingan politik, ekonomi dan pelanggaran adat istiadat tidak terselesaikan. Kelima, dari luar dan dari kebijakan pemerintah pusat. Lihat saja sejarah, berbagai ancaman terhadap ideologi Pancasila selalu bersumber dari luar tanah Banjar, sebut saja DII/TII Ibnu Hadjar dari Jawa Barat dab Sulawesi Selatan. PKI dari Pulau Jawa. Dan peristiwa Jum’at kelabu pun sebenarnya bukan semata-mata berakar masalah di Banjarmasin.

Kegiatan Refleksi yang menghadirkan beberapa tokoh Banua dan para tokoh agama-agama ini berlangsung pada Hari Kamis, 01 Juni 2017, tepat pada Hari Lahir Pancasila dan bertempat di Kantor LK3 jl. Soetoyo S, komp. Rajawali Banjarmasin. Dalam pembicaan selanjutnya pemateri juga memaparkan beberapa solusi untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila pada masyarkat di tanah Banjar. Pertama, penguatan kembali tokoh ulama, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Kedua, peranan LSM dan politik untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur, dimana rakyat merasa aman dan dilindungi oleh negara. Kelima, harmonisasi dan dialog lintas agama. Keenam, penguatan deteksi dini dan bahaya perpecahan bangsa. Ketujuh ialah pengendalian berito Hoax di media sosial. 

Penulis  : Arif Riduan
Editor    : Arif Riduan
Foto       : Arif Riduan dan Ana Riskayanti












No comments:

Post a Comment