Palidangan ( LK3 )

Wednesday, May 31, 2017

Melalui Sastra, Tangkal Paham Radikalisme


Anang Syahrani - Seniman Madihin 

habarpalidangan.blogspot.co.id - Dalam disertasi filsafatnya tentang terorisme, Hendropriono menyatakan bahwa terorisme merupakan tindak kejahatan yang tidak tunduk pada aturan apapun, karena nilai kebenarannya terletak dalam dirinya sendiri. Kejahatan terorisme pun menjadi puncak dari faham fundamentalisme. Biasanya sikap politik para fundamentalis yang ekslusi dan antibudaya cenderung tertutup, keras kepala, dan merasa benar sendiri.

Sehingga menuntut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) & Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) mengadakan dialog Pelibatan Komunitas Seni Budaya Dalam Pencegahan Terorisme “Sastra Cinta Damai, Cegah Paham Radikal”, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi antara masyarakat dan pemerintah tentang radikalisme dan terorisme, dengan menggunakan metode lunak yaitu dengan kesenian,sastra, dan tulisan  khususnya di kalangan kaum muda. Kegiatan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh budayawan, komunitas seni  dan komunitas sastra. 

Pada kesempatan kali ini Eka Budianta seorang Sastrawan, mengatakan edukasi dalam bentuk seni sastra juga menginspirasi masyarakat tentang cinta damai. Namun sejumlah persoalan dasar masih ditemui, kepercayaan terhadap media sosial yang seakan-akan memberikan informasi yang benar, tanpa melihat dari mana sumber itu berasal, apalagi  adanya isu-isu berbau SARA, selain itu juga memberikan dampak negatif terhadap masyarakat sehingga mudah terpengaruh dan terprovokasi. Tak mengherankan kondisi itu membuat semakin kompleksnya pengaruh radikalisme dan terorisme di masyarakat khususnya para kaum muda.

M. Aan Mansyur mengatakan radikalisme sebenarnya bukan hal yang buruk, memiliki arti agar kita belajar dari akarnya, justru yang buruknya adalah fanatisme dalam radikalisme. “Untuk itu belajar sastra sangat perlu, belajar sastra tidak seperti puasa, karena sudah ada waktu yang ditentukan untuk kita mulai  buka dan  puasa, tetapi sastra adalah sesuatu yang tidak menyodorkan jawaban melainkam meyodorkan kita supaya berpikir dengan cara berbeda” ujar Sastrawan dari Makassar ini pada dialog di Hotel Arya Barito, Rabu (31\05\2017).  Begitu juga menurut Agustina Thamrin yang sependapat dengan Sumasno Hadi bahwa sastra juga memberikan ruang untuk kita berkreasi melalui musik, lagu, puisi dan lirik yang secara tidak langsung membawa kita kepada pengertian bahwa tidak hanya lewat demo untuk mengekspresikan suatu pendapat.  

Hal ini juga seirama dengan yang dilakukan Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman (FKPAI) Kalsel, yang selalu mengekspresikan keragaman melalui pementasan seni yaitu teater, tari, musikalisasi puisi, puisi dan orasi, selain dengan menyampaikan dengan nilai kebudayaan tetapi juga lintas iman karena semua pelaku/ pemainnya dari latarbelakang agama dan suku yang berbeda-beda.  

Sekarang jika kita memang percaya bahwa sastra memiliki kekuatan tertentu untuk memengaruhi masyarakat, berarti tidak salah pula kalau kita menempatkan sastra sebagai media penyadaran diri atau sara pengajaran moral. Hal ini berarti pembicaraan kita sudah memasuki ranah sosiologi sastra, khasnya resepsi. Dengan begitu, ketika pembicaraan kita sudah menyentuh resepsi sastra, jelas bahwa proses pembacaan dan interprestasi pembaca merupakan kata kuncinya, ujar Jamal T. Suryanata, penulis kelahiran Kandangan.

Namun, satu hal lagi yang hingga hari ini masih menjadi persoalan besar bagi kita, bangsa Indonesia: adakah masyarakat kita sudah membaca sastra? Sebab, praktis semua masalah yang telah kita diskusikan di atas pada akhirnya pasti akan berujung pada pernyataan tersebut.

Penulis             : Paula Murni Fernandez
Fotografer       : Arif Riduan

Narasumber Dialog sesi kedua
Deputi BNPT - Brigjend Pol. Ir. Hamli

No comments:

Post a Comment