Palidangan ( LK3 )

Monday, June 19, 2017

Pancasila Tidak Bertentangan Dengan Agama




" Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum " artinya Pancasila merupakan acuan dari segala sumber hukum dan aturan yang ada di Indonesia dan hal itu adalah harga mati. Tutur Dr. H. Ihsan Anwary ( Akademisi ULM Banjarmasin ) pada kegiatan diskusi dan buka puasa bersama ( Senin, 15/06/2017 ) yang diprakasai oleh Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan ( LK3 ) dalam mengakhiri rangkaian kegiatan Bulan Ramadhan pada tahun ini. Dan kali ini bekerjasama dengan Komisi Hak dan Kerawam Keuskupan Banjarmasin.

Sebelumnya, diskusi ini diawali dengan paparan tentang 4 Pilar kebangsaan yang diulas oleh Mayor CAJ Hendrikus Umadato. Dalam paparannya Mayor CAJ Hendrikus mengatakan bahwa dalam situasi Bangsa seperti sekarang pemahaman tentang 4 Pilar harus semakin dan selalu disosialisasikan pemahamannya kepada masyarakat, agar NKRI tetap kokoh. 

Senada dengan hal itu, dalam kesempatan ini pula Dr. Jalaluddin, M. Hum ( Akademisi UIN Antasari Banjarmasin ) yang juga menjadi Narasumber diskusi mengatakan Pancasila adalalah Ideologi Bangsa Indonesia, Harga mati dan bersifat final. Tidak boleh ada yang meubah demian itu, jika ada maka kita persilahakan keluar dari Negara ini. Dalam lanjutannya beliau juga memaparkan pembahasan diskusi melalui perspektif agama. Diantara yang beliau tambahkan ialah tentang " Dar al-Ahdi Wa al-Syahadah " merupakan kontrak sosial kepada Bangsa Indonesia. Menjalankan Pancasila sama sekali tidak bertentangan Agama, malah di dalam Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama.

Diskusi yang bertema " Empat Konsesus Kebangsaan Dari Sudut Pandang Agama, Masyarakat dan Negara " ini dilaksanakan di Aula Syallom, Jl. Rantauan Timur, Kelayan Barat, Kota Banjarmasin. Dihadiri oleh Tokoh-tokoh Lintas Agama, Tokoh Akademisi, LSM, Mahasiswa, Babinsa, Bhabinkantibmas dan perwakilan dari organisasi-organisasi keagamaan. Diskusi diakhiri dengan buka puasa bersama dan sholat Magrib berjamaah di tempat yang sudah disediakan oleh Pantia dari Komisi Hak dan Kerawam Keuskupan Banjarmasin. 

Adapun maksud dan tujuan diskusi ini ialah mengangkat kembali nilai-nilai kebangsaan, khususnya nilai-nilai dalam 4 pilar kebangsaan Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1994, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga diharapakan dengan diskusi ini mampu meneguhkan kembali kekokohan persatuan dan kesatuan serta rasa cinta kebangsaan masyarakat di Banua, khususnya di Banjarmasin. 

Penulis            : Arif Riduan
Editor             : Arif Riduan
Fotografer     : Iskandar Sibawai & Muhammad Aldiannor









Saturday, June 17, 2017

Menguatnya Intoleransi, Sebuah Tantangan





habarpalidangan.blogspot.co.id - Menguatnya intoleransi di Indonesia, terjadi sepanjang 15 tahun terakhir, demikian disampaikan Ahmad Sueady, peneliti sekaligus editor buku Intoleransi, Revitalisasi Tradisi dan Tantangan Kebinekaan Indonesia, pada diskusi buku yg dilaksanakan LK3 bekerjasama dengan Majelis Sinode GKE, Rabu 14 Juni 2017 di kantor Sinode GKE di Banjarmasin.


Selain Ahmad Suaedy, hadir pula sebagai pembicara Pdt. DR Wardinan S Lidim, Ketua Umum Sinode GKE. Ia menyampaikan tentang toleransi yang selama ini terbangun antara Islam dan Kristen. Bahkan kedatangan Kristen ke tanah Kalimantan atas jasa dan bantuan Kesultanan Banjar pada masa lampau. Maka dengan demikan toleransi itu sudah terbangun sejak lama. Demikian juga dengan tradisi Rumah Betang atau balai adat yang menggambarkan kerukunan dan kebersamaan.

Dalam paparannya, Suaedy banyak mengutarakan contoh-contoh revitalisasi tradisi yang signifikan membangun toleransi. Bahwa Indonesia kaya akan tradisi dan jika terus dibagun, maka toleransi juga akan terjaga. Dalam setiap masyarakat, selalu saja ada tradisi yg sangat kuat dalam membangun toleransi, karena kebinekaan itu sesuatu yg melekat pada bangsa Indonesia. 

Lebih dari 100 peserta, terdiri dari komunitas berbagai agama hadir dalam diskusi, dilanjutkan dengan buka puasa bersama tersebut. Diskusi  hangat dengan mengutarakan berbagai tradisi agama dan budaya dalam membangun toleransi diutarakan oleh banyak tokoh agama yg hadir, termasuk otokritik atas prilaku umat beragama yangg cendrung  intoleran sehingga menimbulkan ketegangan dalam hubungan antar agama.  

Selain itu, Rafiqah, selaku direktur LK3 dan Pdt. Jhon Wattimena selaku panitia penyelenggara mengatakan bahwa kegiatan diskusi buku ini merupakan bagian dari kerjama antara LK3 dan Sinode GKE dalam membangun hubungan antara agama di Kalimantan. Sudah lebih 7 tahun kerjasama ini dibangun dan berbagai kegiatan dilakukan secara bersama. Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan terbangun saling pengertian dan toleransi di antara umat beragama, sehingga terjaga kedamaian bagi di Kalimantan, khususnya d Banua Kalsel. 

Penulis                        : Abdani Solihin
Editor                         : Arif Riduan
Fotografer                 : Arif Riduan & Muhammad Aldianoor


Thursday, June 1, 2017

Meneguhkan Keindonesian dan Kemanusiaan Di Tanah Banjar; Refleksi Hari Lahir Pancasila


Narasumber Yusliani Noor & Moderator Abdani Solihin

habarpalidangan.blogspot.co.id - Pengalaman sejarah bangsa Indonesia tidaklah sama dengan bangsa-bangsa lainnya. Bangsa Indonesia lahir dari penjuangan yang sangat melelahkan, dengan pengorbanan jawa, darah dan air mata. Begitu pula dengan perang Banjar yang berlangsung 1859 – 1906 yang pula sangat melelahkan dan penuh pengorbanan dari putera puteri terbaik tanah Banjar.  Perjuangan yang sangat melelahkan itulah yang membawa bangsa Indonesia pada kemerdekaan menjadi sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai nilai dasar Pancasila. 

Sejarah Membuktikan bahwa Pancasila tidak terlahir dengan seketika pada tahun 1945, tetapi membutuhkan proses penemuan yang lama, dengan dilandasi oleh perjuangan bangsa dan berasal dari gagasan dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri.  Proses konseptualisasi yang panjang ini ditandai dengan berdirinya organisasi pergerakan kebangkitan nasional, partai politik, dan sumpah pemuda.

Dari awal kelahirannya hingga sekarang Pancasila bukan hanya menjadi Dasar Negara Republik Indonesia, namun juga menjadi Pandangan hidup Bangsa, Identitas Bangsa, Kepribadian Bangsa, perjanjian luhur rakyat, ideologi Bangsa, dan pemersatu Bangsa. Seiring perjalanan perjalanan bangsa sampai hari ini Pancasila tetap menjadi Dasar Negara Bangsa Indonesia walaupun akhir-akhir ini Pancasila sering mendapatkan tantangan bahkan juga muncul tindakan-tindakan ideologi yang mencoba menggantikan Pancasila.

Selama ini dikalangan Masyarakat Banjar Pancasila tidak sedikit ditentang oleh masyarakatnya. Banua Banjar sangat dikenal dengan wilayah religius yang begitu memegang teguh budaya dan menjunjung tinggi perdamaian serta rasa persaudaraan. Dengan hal tersebut memang tak diragukan lagi bahwa masyarakat Banjar sampai hari ini memegang teguh Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Yang menjadi tantangan hari ini ialah bagaimana caranya untuk tetap mempertahankan semua ini, yakni mempertahaankan kesetiaan masyarakat Banjar terhadap Pancasila. 

Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakat (LK3) merasa sangat perlu untuk merefleksikan kembali hari lahir Pancasila yang sampai hari ini menjadi pemersatu semua kalangan di Indonesia, khususnya di Banjarmasin. Dengan tema “ Meneguhkan Keindonesiaan dan Kemanusiaan di Tanah Banjar “ LK3 mengundang Sejarahwan Banua untuk menjadi pembicara refleksi kali ini, yakni Drs. Yusliani Noor, M.Pd.

Antara paparan yang beliau sampaikan ialah tentang analisis ancaman terhadap Pancasila dan Keindonesiaan. Pertama, acaman menguatkan sukuisme, kerana di tanah Banjar pergaulan sosial dan pendidikan sangat terbuka hingga tak menutup kemungkinan adan terjadi gesekan-gesekan konflik pergaulan yang membawa-bawa kesukuan. Kedua, Ancaman disintegritas. Walau tidak terlalu ketara namun oknum-oknum yang berupaya memecah belah keindonesiaan haruslah tetap diwaspadai, karena banyaknya intoleransi yang terjadi, ketimpangan ekonomi, sosial dan persoalan politik. Ketiga, ancaman menguatnya arus ideologi Islam. Paham-paham baru sering masuk melalui mahasiswa dan oknum-oknum tertentu yang membawa paham untuk membentuk negara Islam. Keempat, ancaman bentrok massa. Jika kepentingan politik, ekonomi dan pelanggaran adat istiadat tidak terselesaikan. Kelima, dari luar dan dari kebijakan pemerintah pusat. Lihat saja sejarah, berbagai ancaman terhadap ideologi Pancasila selalu bersumber dari luar tanah Banjar, sebut saja DII/TII Ibnu Hadjar dari Jawa Barat dab Sulawesi Selatan. PKI dari Pulau Jawa. Dan peristiwa Jum’at kelabu pun sebenarnya bukan semata-mata berakar masalah di Banjarmasin.

Kegiatan Refleksi yang menghadirkan beberapa tokoh Banua dan para tokoh agama-agama ini berlangsung pada Hari Kamis, 01 Juni 2017, tepat pada Hari Lahir Pancasila dan bertempat di Kantor LK3 jl. Soetoyo S, komp. Rajawali Banjarmasin. Dalam pembicaan selanjutnya pemateri juga memaparkan beberapa solusi untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila pada masyarkat di tanah Banjar. Pertama, penguatan kembali tokoh ulama, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Kedua, peranan LSM dan politik untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur, dimana rakyat merasa aman dan dilindungi oleh negara. Kelima, harmonisasi dan dialog lintas agama. Keenam, penguatan deteksi dini dan bahaya perpecahan bangsa. Ketujuh ialah pengendalian berito Hoax di media sosial. 

Penulis  : Arif Riduan
Editor    : Arif Riduan
Foto       : Arif Riduan dan Ana Riskayanti