Palidangan ( LK3 )

Tuesday, April 4, 2017

Karet Dari Hulu Sungai; Sejarah Tentang Sumberdaya ekonomi Pasca Kesultanan Banjar

Resume Diskusi Buku Mingguan Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman Selasa 4 April 2017
Judul : Karet Dari Hulu Sungai (Tinjauan Sejarah Tentang Peningkatan Sumberdaya ekonomi Pasca Kesultanan Banjar)
Judul Resensi : Sumber Ekonomi Pendatang di Hulu Sungai (1900-1940)
Pemateri : Muhammad Isya Azhari (Boay)
Moderator : Abdani Solihin



Sejak lama nampaknya motif ekonomi mendorong terjadinya hubungan dan pergaulan antar bangsa. Melalui motif ekonomi perdagangan berlangsung kontak antar ras, bangsa dan etnis. Salah satu wilayah yang telah lama di kenal luas sebagai tempat perdagangan adalah wilayah Kalimantan Selatan.

Pada saat menjelang akhir abad ke-19, kebutuhan karet meningkat cepat, karena semakin banyak para industri memerlukan karet sebagai bahan baku untuk pembuatan isolasi listrik, ban, campuran pembuatan pipa, dan pendukung jalan kereta api. Akhirnya tanaman karet dikembangkan dari Amerika ke Asia oleh beberapa pemilik industri. Bahkan pada tahun 1894 para pemilik perkebunan Cina dan Eropa di Semenanjung Malaya juga mengalihkan perkebunan mereka dari kebun kopi menjadi kebun karet, karena harga kopi turun dan serangan hama. Sedangkan di Indonesia, sebenarnya budidaya karet sudah dimulai sejak 1882 ketika konsulat jenderal Belanda mendatangkan mengirim biji karet ke Bogor. Kemudian, setiap tahun Bogor mengirimkan biji karet ke berbagai daerah di Indonesia.
Muhammad Isya Azhari ( Pemateri )

Pengembangan perkebunan besar akhirnya terjadi di Indonesia dengan mengalihkan perkebunan yang menghasilkan konsumsi seperti, gula, teh, dan kopi menjadi perkebunan yang menghasilkan bahan baku industri seperti karet dan kelapa sawit. Sistem perkebunan sudah terbentuk di Jawa pada saat masa tanam paksa, tetapi di Kalimantan Selatan baru bisa berkembang saat adanya perubahan komposisi barang ekspor.
Pada pertengahan tahun 1900an, penduduk Hulu Sungai mulai membuka kebun karet. Orang Banjar mengenal tanaman karet pada saat mereka merantau di Semenanjung Malaya dan beberapa pengusaha Eropa. Budidaya kebun karet di Hulu Sungai melonjak pada tahun 1910 karena harga karet lebih tinggi dari pada harga pertanian yang menghasilkan konsumsi dan juga tidak memerlukan modal yang banyak.
Di Hulu Sungai , pohon karet banyak di tanam di kaki-kaki pegunungan berbatasan di daerah persawahan. Pada mulanya pernah di tanam di persawahan pasang surut (Amuntai) namun karena getahnya menghasilkan getah yang banyak air “Getahnya tidak mengandung sagu”. Kebun-kebun karet banyak dijumpai di tempat tinggal penduduk. Pohon pohon karet tumbuh bersama dengan pohon lada dan cempedak. Lama kelamaan, kebun semacam itu menjadi kebun karet murni, karena pohon-pohon itu akan mati, “akar karet panas” kata orang Banjar.

Walaupun orang-orang Banjar mengetahui cara memlihara tanaman karet, namun tidak selalu memperhatikan kebunnya dengan baik. Bila harga karet rendah mereka kembali mereka akan menanam padi kembali, hanya petani-petani berani saja yang sepenuhnya tergantung pada pasar yang keadaanya tidak menentu.
Rupanya orang-orang Banjar dulunya sebelum karet masuk sejak lama menjadi pemasok hasil Hutan ke pasar internasional dan mereka telah memiliki pengalaman menghadapi pasar yang tidak menentu, sehingga tidak meninggalkan tanaman pangan, inilah salah satu cara agar tidak kekurangan pangan ketika menghadapi pasar yang tidak menentu. Demikianlah budidaya karet pada akhirnya tidak menyeret perekononian Kalimantan Selatan sepenuhnya terjerat dalam pasar internasional, dengan menumpangkan budidaya pada pertanian tradisional.

Bahkan Sejak di kenalkan oleh pengusaha Belanda maupun orang-orang Banjar yang pulang dari semenajung Malaya, karet merupakan komiditi ekspor unggulan dari Kalimantan Selatan. Hanya dalam kurun 15 tahun sejak orang-oarang Banjar mulai memanam karet, pada pertengahan 1920-an, di Hulu Sungai terdapat sekitar 10-20 juta pohon. Produksi karet di Kalimantan selatan hampir tak pernah berhenti walau situasi pasar kurang menguntungkan. Saat itu banyak orang Banjar menggantungkan hidupnya dari karet dan menjadi kaya karena karet. Mari Nyadap bareng !!!. Dani




 

No comments:

Post a Comment