Rabu, 29 Maret 2017, pukul 20.00-22.00 WITA
Sekretariat LKtiga Banjarmasin
Judu Resensi : Tuhan Itu Teramat Dekat
Judul Buku: “ Tuhan dalam Secangkir Kopi "
Pemateri: Mariatul Ulfah
Moderator: Muhammad Isya Azhari
![]() |
| Mariatul Ulfah ( Jilbab ) |
habarpalidangan.blogspot.co.id - Secangkir kopi bisa membukakan banyak hal. Mulai dari obrolan sederhana
tentang keseharian hingga jalan hidup seseorang yang penuh misteri.
Tiap orang punya cerita sendiri, termasuk bagaimana orang memahami Tuhan
dalam interaksi pribadi yang tidak seharusnya menjadi persinggungan
karena perbedaan nama agama. Sebaliknya, memberi warna dalam
kebersahajaan hidup yang saling menguatkan,demikianlah Denny Siregar,
berefksi dalam bukunya “Tuhan dalam Secangkir Kopi”.
Denny Siregar seorang penggiat media sosial yang terkenal dengan status-status yang dia tulis di facebook dan twitter. Pengalaman-pengalaman hidupnya tentang Tuhan dan agama dia tuangkan dalam tulisan yang pada akhirnya menjadi sebuah buku dengan judul “Tuhan dalam Secangkir Kopi”. Kegemaran Denny dalam minum kopi membuat tulisannya menjadi unik karena dia menulis judul-judul bahasan dengan perspektif-perspektif menyentil tentang Tuhan yang dianalogikan dalam proses pembuatan kopi hingga menjadi secangkir kopi.
Dalam proses pembuatan kopi, perlu memilih biji kopi yang baik untuk menghasilkan kualitas kopi yang baik pula. Maka dari itu, dalam menyampaikan pendapat juga perlu mengemas cara yang cerdas dan pilihan kata yang baik agar menghasilkan pendapat yang baik dan bermanfaat untuk orang lain.
Kita kadang keras kepala memaksa Tuhan untuk mengabulkan apa yang kita minta dan memandang Tuhan tidak sayang pada kita kalau Tuhan tidak mengabulkan. Dalam secangkir kopi ada yang namanya rasa pahit dan manis, begitu juga dalam hidup pasti ada sedih dan bahagia. Hal ini mirip dengan konsep filosofi kepercayaan masyarakat Tionghoa yaitu Yin dan Yang. Kopi akan terasa nikmat apabila kita tahu bagaimana cara menikmatinya, begitu juga dengan hidup. Caranya tidak ada pilihan lain yaitu menyelaminya, meleburkan rasa sedih dan bahagia dengan tenang. Maka rasa sedih pun akan dapat dinikmati dengan rasa bahagia.
Dalam hidup, kita mendapati yang namanya proses. Kita mungkin sering mendengar nasehat “jangan lupa berusaha dan berdoa”. Denny memberikan konsep baru tentang ikhtiar (berusaha) yaitu berdoa dulu, baru berusaha. Menurut Denny, justru lebih baik berdoa dulu dan pasrah kepada Tuhan seraya meminta yang terbaik dari-Nya kemudian baru kita berusaha. Sehingga langkah-langkah yang kita ambil sampai ketujuan adalah langkah yang terbaik dari-Nya. Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Selain itu Denny juga memberikan bahasan lain tentang poligami. Poligami itu adalah level keikhlasan tingkat tinggi bagi kaum wanita, dimana kaum lelaki tidak mungkin mencapainya. Satu keistimewaan yang diberikan Tuhan sebagai bentuk pilihan. Ketika seorang wanita sudah mencapai tahapan ikhlas saat suaminya berpoligami, ini menunjukkan bahwa ia sudah terlepas dari baju materi. Urusannya hanya dengan Tuhan-Nya, sedangan urusannya dengan suaminya hanyalah kewajibannya di dunia. Melepaskan diri dari bentuk-bentuk pemujaan terhadap baju duniawi, memang bukan pekerjaan mudah. Ini hanya bisa dicapai oleh orang-orang tertentu yang sudah mencapai tingkat pemikiran yang tinggi. Jadi, daripada menilai level ketinggian seseorang yang kita tidak sanggup memahaminya, lebih baik kita mengukur diri sendiri bahwa kita belum sampai pada level itu. Bukan dengan merendahkannya sebagai bentuk pembenaran ketidak-sanggupan kita menuju ketinggian itu. Isya
Yuuukkk ngopi bareng...





No comments:
Post a Comment