![]() |
| Anang Syahrani - Seniman Madihin |
habarpalidangan.blogspot.co.id - Dalam disertasi
filsafatnya tentang terorisme, Hendropriono menyatakan bahwa terorisme
merupakan tindak kejahatan yang tidak tunduk pada aturan apapun, karena nilai
kebenarannya terletak dalam dirinya sendiri. Kejahatan terorisme pun menjadi
puncak dari faham fundamentalisme. Biasanya sikap politik para fundamentalis
yang ekslusi dan antibudaya cenderung tertutup, keras kepala, dan merasa benar
sendiri.
Sehingga menuntut, Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) & Forum Koordinasi Pencegahan
Terorisme (FKPT) mengadakan dialog Pelibatan Komunitas Seni Budaya Dalam
Pencegahan Terorisme “Sastra Cinta Damai,
Cegah Paham Radikal”, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi
antara masyarakat dan pemerintah tentang radikalisme dan terorisme, dengan
menggunakan metode lunak yaitu dengan kesenian,sastra, dan tulisan khususnya di kalangan kaum muda. Kegiatan ini
dihadiri oleh tokoh-tokoh budayawan, komunitas seni dan komunitas sastra.
Pada kesempatan kali
ini Eka Budianta seorang Sastrawan, mengatakan edukasi dalam bentuk seni sastra
juga menginspirasi masyarakat tentang cinta damai. Namun sejumlah persoalan
dasar masih ditemui, kepercayaan terhadap media sosial yang seakan-akan
memberikan informasi yang benar, tanpa melihat dari mana sumber itu berasal,
apalagi adanya isu-isu berbau SARA,
selain itu juga memberikan dampak negatif terhadap masyarakat sehingga mudah
terpengaruh dan terprovokasi. Tak mengherankan kondisi itu membuat semakin
kompleksnya pengaruh radikalisme dan terorisme di masyarakat khususnya para
kaum muda.
M. Aan Mansyur
mengatakan radikalisme sebenarnya bukan hal yang buruk, memiliki arti agar kita
belajar dari akarnya, justru yang buruknya adalah fanatisme dalam radikalisme. “Untuk itu belajar sastra sangat perlu,
belajar sastra tidak seperti puasa, karena sudah ada waktu yang ditentukan
untuk kita mulai buka dan puasa, tetapi sastra adalah sesuatu yang tidak
menyodorkan jawaban melainkam meyodorkan kita supaya berpikir dengan cara
berbeda” ujar Sastrawan dari Makassar ini pada dialog di Hotel Arya Barito,
Rabu (31\05\2017). Begitu juga menurut
Agustina Thamrin yang sependapat dengan Sumasno Hadi bahwa sastra juga
memberikan ruang untuk kita berkreasi melalui musik, lagu, puisi dan lirik yang
secara tidak langsung membawa kita kepada pengertian bahwa tidak hanya lewat
demo untuk mengekspresikan suatu pendapat.
Hal ini juga seirama
dengan yang dilakukan Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman (FKPAI) Kalsel, yang
selalu mengekspresikan keragaman melalui pementasan seni yaitu teater, tari,
musikalisasi puisi, puisi dan orasi, selain dengan menyampaikan dengan nilai
kebudayaan tetapi juga lintas iman karena semua pelaku/ pemainnya dari
latarbelakang agama dan suku yang berbeda-beda.
Sekarang jika kita
memang percaya bahwa sastra memiliki kekuatan tertentu untuk memengaruhi
masyarakat, berarti tidak salah pula kalau kita menempatkan sastra sebagai
media penyadaran diri atau sara pengajaran moral. Hal ini berarti pembicaraan
kita sudah memasuki ranah sosiologi sastra, khasnya resepsi. Dengan begitu,
ketika pembicaraan kita sudah menyentuh resepsi sastra, jelas bahwa proses pembacaan
dan interprestasi pembaca merupakan kata kuncinya, ujar Jamal T. Suryanata,
penulis kelahiran Kandangan.
Namun, satu hal lagi
yang hingga hari ini masih menjadi persoalan besar bagi kita, bangsa Indonesia:
adakah masyarakat kita sudah membaca sastra? Sebab, praktis semua masalah yang
telah kita diskusikan di atas pada akhirnya pasti akan berujung pada pernyataan
tersebut.
Penulis : Paula Murni Fernandez
Fotografer : Arif Riduan
![]() |
| Narasumber Dialog sesi kedua |
![]() |
| Deputi BNPT - Brigjend Pol. Ir. Hamli |





