Palidangan ( LK3 )

Monday, April 24, 2017

Bukan Untuk Tahta, Melainkan Untuk Merdeka; Antasari, Sebuah Novel Sejarah

Diskusi buku mingguan Pemuda antar iman, 18/04/2017 di Kantor LK3 Banjarmasin
Judul : BUKUN UNTUK TAHTA MELAINKAN UNTUK MERDEKA
Judul buku : Antasari , sebuah novel sejarah
Penulis : Helius Sjamsuddin

Pemateri : Arif Riduan (Ole)
Moderator : Rita Ria Safitri

Ketika kehidupan damai diusik kedatangan tamu-tamu yang tak dikehendaki, ketika rasa aman dirampas oleh musuh bernama penjajah, ketika hak milik rakyat diganyang oleh manusia licik, culas, dan bernafsu binatang, ketika pribumi sebagai pemilik sah nusantara dibelenggu dan dipersulit kehidupannya, maka melawan adalah jalan mulia untuk mengindahkan keadaan. Keegoisan dan kebrutalan Belanda telah membuat nusantara babak belur, termasuk kesultanan Banjar yang kala itu semakin terpuruk oleh ulah Bengal sang penjajah. Seorang pahlawan dari Kalimantan Selatan bernama Pangeran Antasari (1767-1862 H) terpanggil untuk membela Bumi Banjar dari belenggu penjajahan

***

Kesultanan Banjar merupakan babak akhir dari rangkaian riwayat sejumlah kerajaan di Kalimantan Selatan pada masa sebelumnya.Pemerintahan yang pertamakali menjadi cikal bakal Kesultanan Banjar adalah Kerajaan Nan Sarunai. Pada masa akhir kesultanan Banjar inilah terjadi konflik perebutan kekuasaan yang terjadi antar keluarga Kesultanan Banjar itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan berbagai masalah muncul sehingga kekuasaan kerajaan hampir tidak lagi berfungsi dengan baik. Lebih-lebih ketika Belanda ikut campur dalam urusan Kesultanan Banjar,kedatangan Belanda ini merubah ekonomi, politik dan sosial pada saat itu. Sisi lain dalam hal ekonomi adalah kebutuhan para penguasa yang semakin meningkat, sedangkan penghasilan mereka sedikit sehingga langkah satu-satunya Kesultanan Banjar adalah meningkatkan pajak dua kali lipat sehingga hal ini memberatkan rakyat yang hanya mayoritas bertani dan pedagang kecil. inilah yang mengakibatkan Kesultanan Banjar dianggap telah melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat Banjar. Sehinggal hal ini lah yang membuat Antasari menggalang kekuatan unuk melawan Belanda dan berjuang demi masyarakat Banjar dari penindasan yang semena-mena Belanda dan Kesultanan Banjar yang pada saat itu dipimpin oleh Tamjid yang memihak kepada Belanda.

Selain itu Novel Sejarah ini memiliki tiga cerita tentang Antasari. Yang pertama,pertemuan Antasari dengan Datu Aling di Muning daerah Margasari. Kedua,pertemuan Antasari dengan Hidayatullah di Banjarmasin. Dan Ketiga, pertemuan Antasari dengan Demng Lehman. Sehingga pada 11 oktober 1862 Pangeran Antasari wafat karena sakit.Rita











Wednesday, April 5, 2017

Mengenal LK3, Pengawal Keberagaman di Banua

habarpalidangan.blogspot.co.id - dilangsir oleh PROKAL.CO, Di tengah hiruk-pikuk persoalan sentimen SARA yang terjadi akhir-akhir ini, di Banjarmasin ternyata ada organisasi yang fokus mengkampanyekan isu keberagaman. Sekretariatnya berada di sudut perkotaan. Tepatnya, di Jalan Soetoyo S, Komplek Rajawali. Dari luar komplek, tidak terlihat ada papan informasi apapun mengenai keberadaan organisasi ini. Setelah masuk ke dalam beberapa puluh meter, baru penulis menemukannya.
 
diskusi tentang keberagaman banua di LK3
Sampai di tempat, penulis bertemu dengan Rofiqah, Direktur dari Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) ini. Ia bercerita banyak mengenai sepak terjang organisasi ini, mengkampanyekan isu keberagaman yang ada di Banua. “Sudah 23 tahun lembaga ini berjalan,” ujar Rofiqah menceritakan awal mula dimulainya perjalanan lembaga ini.

Awalnya, kata dia lembaga ini hanyalah sekadar wadah diskusi dosen-dosen IAIN yang memperbicangkan masalah keagamaan dan isu-isu sosial, namun lama kelamaan mereka berkembang menjadi lembaga yang fokus terhadap isu pluralisme atau keberagaman.
Sejak tahun 2000 awal, masyarakat Indonesia disuguhi dengan beragam isu-isu dengan sentimen keagamaan. Hal tersebut yang melatarbelakangi kenapa lembaga non profit ini mengkampanyekan isu-isu keberagaman. “Kami ingin, konflik yang terjadi di masyarakat akibat sentimen-sentimen tersebut diselesaikan tanpa memunculkan permasalahan baru,” ujar Rofiqoh.
Soal pengalaman mereka memperjuangkan isu keberagaman, Rofiqoh bercerita lembaga ini dahulu sempat menjembatani penyelesaian permasalahan yang terjadi antara Ahmadiyah Banjarmasin dengan masyarakat. “Dulu mereka sempat dikirimi Walikota surat teguran karena aktivitas mereka yang diduga meresahkan warga,” tuturnya. Namun, surat tersebut tidak ditanggapi dengan serius oleh komunitas Ahmadiyah. “Mereka malah menganggap surat tersebut adalah surat cinta,” ceritanya.
religi ekspo 2016
Akhirnya, karena masyarakat setempat tidak terima dengan statement tersebut, masyarakat malah tambah berang. Namun syukur, karena LK3 sempat menjembatani permasalahan ini, konflik akhirnya usai. “Kita coba cari jalan keluar yang memang non diskriminatif,” tegasnya.
Rofiqoh menerangkan, jika ada pihak minoritas yang memerlukan bantuan untuk memperjuangkan hak-haknya, pihak LK3 siap memfasilitasi hal tersebut. “Tapi kita lihat dulu track record-nya, apabila tidak sesuai ya tidak bisa dibantu,” ujarnya.
Selain melakukan advokasi mereka juga sering melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengkampanyekan isu keberagaman. “Seperti kemarin acara religi expo di Menara Pandang,” ujarnya.
Kemudian, mereka juga aktif melakukan diskusi mingguan yang dilakukan oleh pemuda antar iman yang ada di Banjarmasin. “Namun kita tidak berdebat soal kepercayaan di sini, dalam diskusi tersebut kita mencoba membicarakan permasalahan sosial yang ada,” ceritanya.
Mereka juga aktif memberikan keterampilan kepada perempuan-perempuan yang ada di Kota Banjarmasin untuk bisa mandiri secara perekonomian.  “Karena akar dari munculnya radikalisme seringkali adalah perekonomian masyarakat,” ceritanya.
Rofiqoh berharap di 23 tahun perjalanan LK3 ini, mereka bisa terus merawat keberagaman yang ada di Banua dengan program-program mereka. “Sesuai dengan moto kami, Haragu Banua, Rakat Barataan,” terangnya. (by/ram/donny)





Desa Kambiyain - Kab. Balangan - Kalsel

pengunungan meratus - Desa Kiyu - Kab. HST

Tuesday, April 4, 2017

Karet Dari Hulu Sungai; Sejarah Tentang Sumberdaya ekonomi Pasca Kesultanan Banjar

Resume Diskusi Buku Mingguan Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman Selasa 4 April 2017
Judul : Karet Dari Hulu Sungai (Tinjauan Sejarah Tentang Peningkatan Sumberdaya ekonomi Pasca Kesultanan Banjar)
Judul Resensi : Sumber Ekonomi Pendatang di Hulu Sungai (1900-1940)
Pemateri : Muhammad Isya Azhari (Boay)
Moderator : Abdani Solihin



Sejak lama nampaknya motif ekonomi mendorong terjadinya hubungan dan pergaulan antar bangsa. Melalui motif ekonomi perdagangan berlangsung kontak antar ras, bangsa dan etnis. Salah satu wilayah yang telah lama di kenal luas sebagai tempat perdagangan adalah wilayah Kalimantan Selatan.

Pada saat menjelang akhir abad ke-19, kebutuhan karet meningkat cepat, karena semakin banyak para industri memerlukan karet sebagai bahan baku untuk pembuatan isolasi listrik, ban, campuran pembuatan pipa, dan pendukung jalan kereta api. Akhirnya tanaman karet dikembangkan dari Amerika ke Asia oleh beberapa pemilik industri. Bahkan pada tahun 1894 para pemilik perkebunan Cina dan Eropa di Semenanjung Malaya juga mengalihkan perkebunan mereka dari kebun kopi menjadi kebun karet, karena harga kopi turun dan serangan hama. Sedangkan di Indonesia, sebenarnya budidaya karet sudah dimulai sejak 1882 ketika konsulat jenderal Belanda mendatangkan mengirim biji karet ke Bogor. Kemudian, setiap tahun Bogor mengirimkan biji karet ke berbagai daerah di Indonesia.
Muhammad Isya Azhari ( Pemateri )

Pengembangan perkebunan besar akhirnya terjadi di Indonesia dengan mengalihkan perkebunan yang menghasilkan konsumsi seperti, gula, teh, dan kopi menjadi perkebunan yang menghasilkan bahan baku industri seperti karet dan kelapa sawit. Sistem perkebunan sudah terbentuk di Jawa pada saat masa tanam paksa, tetapi di Kalimantan Selatan baru bisa berkembang saat adanya perubahan komposisi barang ekspor.
Pada pertengahan tahun 1900an, penduduk Hulu Sungai mulai membuka kebun karet. Orang Banjar mengenal tanaman karet pada saat mereka merantau di Semenanjung Malaya dan beberapa pengusaha Eropa. Budidaya kebun karet di Hulu Sungai melonjak pada tahun 1910 karena harga karet lebih tinggi dari pada harga pertanian yang menghasilkan konsumsi dan juga tidak memerlukan modal yang banyak.
Di Hulu Sungai , pohon karet banyak di tanam di kaki-kaki pegunungan berbatasan di daerah persawahan. Pada mulanya pernah di tanam di persawahan pasang surut (Amuntai) namun karena getahnya menghasilkan getah yang banyak air “Getahnya tidak mengandung sagu”. Kebun-kebun karet banyak dijumpai di tempat tinggal penduduk. Pohon pohon karet tumbuh bersama dengan pohon lada dan cempedak. Lama kelamaan, kebun semacam itu menjadi kebun karet murni, karena pohon-pohon itu akan mati, “akar karet panas” kata orang Banjar.

Walaupun orang-orang Banjar mengetahui cara memlihara tanaman karet, namun tidak selalu memperhatikan kebunnya dengan baik. Bila harga karet rendah mereka kembali mereka akan menanam padi kembali, hanya petani-petani berani saja yang sepenuhnya tergantung pada pasar yang keadaanya tidak menentu.
Rupanya orang-orang Banjar dulunya sebelum karet masuk sejak lama menjadi pemasok hasil Hutan ke pasar internasional dan mereka telah memiliki pengalaman menghadapi pasar yang tidak menentu, sehingga tidak meninggalkan tanaman pangan, inilah salah satu cara agar tidak kekurangan pangan ketika menghadapi pasar yang tidak menentu. Demikianlah budidaya karet pada akhirnya tidak menyeret perekononian Kalimantan Selatan sepenuhnya terjerat dalam pasar internasional, dengan menumpangkan budidaya pada pertanian tradisional.

Bahkan Sejak di kenalkan oleh pengusaha Belanda maupun orang-orang Banjar yang pulang dari semenajung Malaya, karet merupakan komiditi ekspor unggulan dari Kalimantan Selatan. Hanya dalam kurun 15 tahun sejak orang-oarang Banjar mulai memanam karet, pada pertengahan 1920-an, di Hulu Sungai terdapat sekitar 10-20 juta pohon. Produksi karet di Kalimantan selatan hampir tak pernah berhenti walau situasi pasar kurang menguntungkan. Saat itu banyak orang Banjar menggantungkan hidupnya dari karet dan menjadi kaya karena karet. Mari Nyadap bareng !!!. Dani