Palidangan ( LK3 )

Friday, March 31, 2017

Tuhan Itu Teramat Dekat " Buku Tuhan Dalam Secangkir Kopi Karya Denny Siregar "

Resume diskusi mingguan Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman (FKPAI) Kalsel
Rabu, 29 Maret 2017, pukul 20.00-22.00 WITA
Sekretariat LKtiga Banjarmasin
Judu Resensi : Tuhan Itu Teramat Dekat
Judul Buku: “ Tuhan dalam Secangkir Kopi "
Pemateri: Mariatul Ulfah
Moderator: Muhammad Isya Azhari


Mariatul Ulfah ( Jilbab )
habarpalidangan.blogspot.co.id - Secangkir kopi bisa membukakan banyak hal. Mulai dari obrolan sederhana tentang keseharian hingga jalan hidup seseorang yang penuh misteri. Tiap orang punya cerita sendiri, termasuk bagaimana orang memahami Tuhan dalam interaksi pribadi yang tidak seharusnya menjadi persinggungan karena perbedaan nama agama. Sebaliknya, memberi warna dalam kebersahajaan hidup yang saling menguatkan,demikianlah Denny Siregar, berefksi dalam bukunya “Tuhan dalam Secangkir Kopi”.

Denny Siregar seorang penggiat media sosial yang terkenal dengan status-status yang dia tulis di facebook dan twitter. Pengalaman-pengalaman hidupnya tentang Tuhan dan agama dia tuangkan dalam tulisan yang pada akhirnya menjadi sebuah buku dengan judul “Tuhan dalam Secangkir Kopi”. Kegemaran Denny dalam minum kopi membuat tulisannya menjadi unik karena dia menulis judul-judul bahasan dengan perspektif-perspektif menyentil tentang Tuhan yang dianalogikan dalam proses pembuatan kopi hingga menjadi secangkir kopi.

Dalam proses pembuatan kopi, perlu memilih biji kopi yang baik untuk menghasilkan kualitas kopi yang baik pula. Maka dari itu, dalam menyampaikan pendapat juga perlu mengemas cara yang cerdas dan pilihan kata yang baik agar menghasilkan pendapat yang baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Kita kadang keras kepala memaksa Tuhan untuk mengabulkan apa yang kita minta dan memandang Tuhan tidak sayang pada kita kalau Tuhan tidak mengabulkan. Dalam secangkir kopi ada yang namanya rasa pahit dan manis, begitu juga dalam hidup pasti ada sedih dan bahagia. Hal ini mirip dengan konsep filosofi kepercayaan masyarakat Tionghoa yaitu Yin dan Yang. Kopi akan terasa nikmat apabila kita tahu bagaimana cara menikmatinya, begitu juga dengan hidup. Caranya tidak ada pilihan lain yaitu menyelaminya, meleburkan rasa sedih dan bahagia dengan tenang. Maka rasa sedih pun akan dapat dinikmati dengan rasa bahagia.

Dalam hidup, kita mendapati yang namanya proses. Kita mungkin sering mendengar nasehat “jangan lupa berusaha dan berdoa”. Denny memberikan konsep baru tentang ikhtiar (berusaha) yaitu berdoa dulu, baru berusaha. Menurut Denny, justru lebih baik berdoa dulu dan pasrah kepada Tuhan seraya meminta yang terbaik dari-Nya kemudian baru kita berusaha. Sehingga langkah-langkah yang kita ambil sampai ketujuan adalah langkah yang terbaik dari-Nya. Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Selain itu Denny juga memberikan bahasan lain tentang poligami. Poligami itu adalah level keikhlasan tingkat tinggi bagi kaum wanita, dimana kaum lelaki tidak mungkin mencapainya. Satu keistimewaan yang diberikan Tuhan sebagai bentuk pilihan. Ketika seorang wanita sudah mencapai tahapan ikhlas saat suaminya berpoligami, ini menunjukkan bahwa ia sudah terlepas dari baju materi. Urusannya hanya dengan Tuhan-Nya, sedangan urusannya dengan suaminya hanyalah kewajibannya di dunia. Melepaskan diri dari bentuk-bentuk pemujaan terhadap baju duniawi, memang bukan pekerjaan mudah. Ini hanya bisa dicapai oleh orang-orang tertentu yang sudah mencapai tingkat pemikiran yang tinggi. Jadi, daripada menilai level ketinggian seseorang yang kita tidak sanggup memahaminya, lebih baik kita mengukur diri sendiri bahwa kita belum sampai pada level itu. Bukan dengan merendahkannya sebagai bentuk pembenaran ketidak-sanggupan kita menuju ketinggian itu. Isya

Yuuukkk ngopi bareng...







Wednesday, March 22, 2017

Melestarikan Resep Masakan Tradisional Banjar Sebagai Pemersatu Antar Umat Beragama




habarpalidangan.blogspot.co.id - Warung Rukun LK3  kembali mengadakan Cooking Class atau pelatihan memasak untuk ibu-ibu kelompok perempuan potensial sebagai salah satu sarana pemersatu antar kelompok dan komunitas agama yang berbeda,  guna pencegahan sikap radikalisasi yang  mungkin saja bisa tumbuh dari suatu perbedaan. 

kue ipau
Transformasi pengetahuan melalui pengenalan  resep-resep masakan khas Banjar, dirasa sangat efektif untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan antar komunitas agama, melalui citarasa yang begitu istimewa dan kebersamaan yang tumbuh saat mengolah penganan tersebut. 

Cooking class ini, selain menjadi wadah pemersatu antar umat beragama juga berperan dalam pelestarian resep-resep masakan tradisional Banjar.



Pada kesempatan kali ini Kamis, 23 Maret 2017, Warung Rukun memperkenalkan Kue Ipau Bersama Chef Muthiah Al Katiri yang sudah belasan tahun menggeluti bisnis pembuatan Kue Ipau ini. Kegitan ini bertempat di Kantor Lembaga Kajian Keislaman & Kemasyarakatan ( LK3 ) Banjarmasin Jl. Soetoyo S, Teluk Dalam Komplek Rajawali Kota Banjarmasin.

"IPAU" adalah makanan khas dari komunitas arab yang mendiami sepanjang Sungai Martapura yang dikenal dengan Kampung Arab Di Banjarmasin. Kue/Wadai "IPAU" sangat populer saat Bulan Ramadhan. Makanan dari adonan gandum dan diisi  berbagai sayuran serta daging yang sangat kuat aroma bumbunya, Kemudian disiram dengan saus santan kental, menjadikannya sebagai salah satu pengganti karbohidrat selain nasi. 

Kontributor : Lina
Editor : Arif
Photografer : Isya & Arif  



koordinator program IG / Kelompok Potensial


Chef Muthiah Al Katiri/ Umi ( Kerudung Merah )













Sunday, March 5, 2017

Melalui Pagelaran Seni " Refleksi Awal Tahun 2017 " Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman ( FKPAI ) Rayakan Keberagaman Di Banjarmasin


Refleksi Awal Tahun 2017 - FKPAI 
habarpalidangan.blogspot.co.id - “ Belajar tentang iman orang lain bukanlah dosa, saya seorang imam belajar Islamologi, dan tentang Budha, juga Hindu, sehingga sampai kepada kesimpulan kepada siapa saya percaya dan saya dapat menghormati dengan siapa saya hidup bersama “ ( Roma Alfaris, Katolik ).

“ Kami mengapresiasi kepada anak-anak muda memiliki tujuan untuk membangun bukan untuk merusak, ini harus dipertahankan, tentu harus ditingkatkan “ ( Pendeta Cornelius, Kristen )

“ Bukan hanya kami-kami ini yang sebentar lagi mungkin ( tutup usia – red ), tetapi ternyata generasi muda sudah siap untuk melanjutkan estafet kerukunan umat beragama “ ( Romo Sarwadharma, Budha )

“ Saya senang sekali ternyata, Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman di Banjarmasin ternyata berkembang dengan baik dengan adanya pertemuan seperti ini, di tahun sebelumnya saya juga hadir dan saya sangat senang sekali “ ( H. Syarifuddin R, Islam ).

“ Tidak ada kata lain selain luar biasa karena kegiatan ini merupakan kegiatan tahun ke-4 yang dirancang oleh anak-anak muda. Mereka latihan bersama, jadi yang dilihat adalah interaksi selama latihan tersebut berminggu-minggu, bukan hanya pada hari ini melainkan interaksi selama latihan mereka dapat berdialog antar agama-agama dan itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa dalam membangun kerukunan “ ( Noorhalis Majid, LK3).

sambutan perwakilan tokoh-tokoh agama
Beberapa kalimat di atas merupakan potongan penyampaian kesan dan pesan oleh Perwakilan tokoh agama-agama yang berhadir pada pagelaran seni Refleksi Awal Tahun 2017 dengan tema Membingkai Perbedaan Dalam Keragaman, yang dilaksakan di Taman Budaya Banjarmasin, Jum’at, 03/03/2017 oleh Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman ( FKPAI Kalsel ). Refleksi tahun ke-4 sejak 2013 yang lalu untuk merefleksikan sekaligus merayakan keragaman.

Kali ini di Ketuai oleh Mariyatul Ulfah dari Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) dan laksakan oleh puluhan pemuda lainnya yang terlibat menjadi pengisi acara maupun dalam kepanitiaan. Puluhan pemuda tersebut merupakan perwakilan dari beberapa organisasi kepemudaan dan kemasiswaan, diantaranya, PMII, HMI, GMKI, KMHDI, PMKRI, KMK, BEM STT-GKE, HMJ Perbandigan Agama, Sanggar Tasmaq Annida dan Teropong Community. Dan sebagian dari mereka merupakan alumni dari kegiatan-kegiatan LK3, salah satunya LIVE IN dan AKSI SOSIAL.

mendengarkan arahan dari YS Agus Suseno, Seniman Kalsel
Pagelaran seni ini sudah dipersiapkan sejak Oktober 2016 yang lalu, dengan Arahan dan Bimbingan Y.S Agus Suseno seorang seniman ternama di Kalimantan Selatan yang turut mengapresiasi kerukunan agama, khususnya antar iman di kalangan remaja Banjarmasin. Refleksi awal tahun 2017 kali ini menyuguhkan beberapa penampilan, yang pertama Tari Kipas, kedua pembacaan puisi dan orasi, ketiga musikalisasi puisi dan keempat ditutup oleh penampilan teater.

Refleksi Awal Tahun 2017 ini dihadiri sekitar 200 penonton dari berbagai kalangan, berbagai organisasi dan berbagai kampus. Bukan hanya dihadiri oleh undangan dan penonton yang sengaja datang untuk menyaksikan pagelaran seni oleh FKPAI, namun Refleksi Awal tahun ini juga di banyak dihadiri oleh alumni-alumni Refleksi Awal Tahun pada tahun-tahun sebelumnya, baik yang pernah menjadi pengisi acara, maupun yang pernah terlibat dalam kepantiaan, serta dihadiri oleh beberapa media lokal. Arif_Riduan





musikalisasi puisi

teater


sambutan Noorhalis Majid - LK3


tari kipas

puisi

puisi

orasi






wawancara media bersama Noorhalis Majid ( LK3 ) & Dr. H. Mirhan ( ketua FKUB Kalsel ) 




suasana latihan
 
suasana latihan

suasana latihan


suasana latihan

suasana latihan di LK3

refleksi awal tahun 2016 lalu 

refleksi awal tahun 2016 lalu 

refleksi awal tahun 2016 lalu 




 photografer : TIM DOKUMENTASI FKPAI