Palidangan ( LK3 )

Tuesday, August 28, 2018

Aula GPIB Maranatha Banjarmasin Didatangi Oleh Puluhan Perempuan



Masih dengan program “ Belajar Bersama “, Komunitas Pelangi dan Lembaga Kajian Keislaman Kemasyarakatan ( LK3 ) bersama GPIB Marantha Banjarmasin menggelar diolog yang bertema “ Perempuan dan Kekuasaan “, 27 Agustus 2018, di Aula GPIB Maranatha Banjarmasin. Kegiatan ini berangkat dari situasi perempuan yang selalu tersingkir dari dunia publik dan politik selama berabad-abad. Satu-satunya pemahaman yang perempuan pahami tentang kekuasaan hanyalah ruang privat yang tiap hari mereka jalani, yakni hanya ruang lingkup pribadi dan keluarga saja.

Bahkan dalam ruang lingkup tersebut perempuan juga hanya bisa sebagai perantara dari kekuasaan lelaki di ruang lingkupnya. Sehingga pengalaman publik yang mereka miliki pun sangat minim bahkan sangat tipis jika dibandingkan dengan pengalaman hidup lelaki, apa lagi dalam hal politik. Peran dominan laki-laki masih menjadi model perpolitikan sampai hari ini, sehingga aspirasi yang sangat menyangkut perempuan itu tidak bisa dikatakan telah diakomodir oleh penguasa.

“ Belajar Besama “ kali ini sangat menarik untuk dihadiri, sehingga Aula GPIB Maranatha didatangi oleh puluhan undangan dari perwakilan lembaga, organisasi, instansi serta komunitas yang berbasis perempuan sebagai penggeraknya, seperti Wandani, WHDI, WKRI, Komunitas Pelangi, Komunitas Warung Rukun, Komunitas Pelangi, ibu-ibu UKM, PW Aisyiah, PW Muslimat FKPAI Kalsel, aktivis perempuan serta organisasi lainnya, serta dari tuan rumah sendiri, yakni Pengurus dan Jemaat dari GPIB Maranatha Banjarmasin, juga pengurus Divisi Perempuan GPIB Maranatha Banjarmasin.

Dalam kesempatan ini, Dr. Hj, Erlina, SH, MH, banyak sekali mamparkan tentang pentingnya perempuan untuk ikut andil dalam pertarungan politik untuk kemajuan bangsa, negara dan tentu untuk kemajuan perempuan itu sendiri.  “ Hendaklah perempuan ambil andil dalam politik, bahkan ikut berpolitik secara langsung, walau pun banyak nanti tantangan yang akan dihadapi”. Ungkapnya.

Dr. Hj. Masyitah Umar, M.Hum, yang juga menjadi pembicara pada kesempatan kali ini mengatakan “ ayo perempuan, kita harus saling menguatkan. Apa lagi untuk keberhasilan caleg perempuan, harus kita dukung. Sesama perempuan kita harus saling menguatkan. Dan hanya perempuanlah tentunya yang bisa sangat mengerti permpuan “. 

Di tempat yang sama, Direktur LK3, Rafiqah, S.Ag mengatakan tujuan utama kegiatan ini tentunya sebagai ajang silaturrahmi ibu-ibu antariman, antarsuku dan antar organisasi, agar semakin memperkuat kebersamaan yang telah lama sudah terjalin. Mengenai Tema “ perempuan dan kekusaan “ dia berharap bahwa nantinya para ibu-ibu yang mengikuti kegiatan ini akan terlibat aktif dalam partisipasi politik yang akan dihadapi nanti. ( Arif  Riduan )









Saturday, August 18, 2018

Dua Saudara Bertikai, Yang Untung Orang Ketiga


 


Belum lagi memasuki tahun pilpres 2019, kita sudah dihadapakan dengan beberapa isu yang menjadi tantangan, bahkan menjadi ancaman yang serius bagi kebhinekaan yang akhir-akhir ini dirongrong. Tahun politik bisa saja menjadi tahun konflik jika tidak dijalankan dengan baik. Jauh sebelum hal yang menakutkan ini terjadi, tentu hal semacam ini perlu dibicarakan dan diskusikan.
Momentum 73 Tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakat (LK3), Vihara Dhamasoka, dan FKUB Kalsel kembali mengadakan refleksi kemerdekaan republik Indonesia yang dilaksanakan di Aula Vihara Dhamasoka, Kamis 16 Agustus 2018.

Dalam tahun politik,seringkali orang menggampangkan isu-isu besar untuk diseret dalam rangka kepentingan jangka pendek dan kecil. Isu kemajemukan bangsa pun sering kali menjadi alat yang dianggap ampuh untuk mendulang banyak suara pemilih dan pendukung, yang seharusnya kemajemukan itu harus dijaga dan dirawat dengan baik.

Yosep Adi Prasetyo, dalam paparanya mengatakan “ Republik Indonesia ada karena kita berbeda-beda “. Hal ini menegaskan perbedaan itulah yang menjadikan satu nasib, satu penanggunganlah yang membuat bangsa ini bangkit bersatu untuk menuju merdeka, walau pun berbeda-beda.  Dalam paparannya pula, Ketua Dewan Pers ini mengatakan, “ media  tentu juga sangat penting dalam keberlangsungan Negara ini, karena Pers merupakan salah satu pilar dari empat pilar demokrasi selain, eksekutif, legislatif dan yudikatif”.

Maka peran Pers sangat penting dalam merawat bangsa ini. Dalam tambahannya Yosep mengatakan bahwa “ Pers adalah pekerjaan yang mulia, namun sekarang banyak pers abal-abal yang menjadi rusukan informasi oleh masyarakat, bahwa kita tau tidak semua informasi adalah berita. Sebab berita adalah informasi yang diverifikasi dan dikonfirmasi, sedangkan apa yang menjadi konsumsi masyarakat hari ini hanyalah sebuah informasi dari pers abal-abal.

Narasumber kedua, Bhante Dhammasubbo Mahatera mengungkapkan tentang perjalanan beliau yang  banyak mendatangi negara-negara besar di dunia, seperti India, Afrika, Amerika dan Eropa yang menyimpulkan bahwa “ beruntunglah orang-orang  yang lahir dan hidup di Negara ini “. Dalam lanjutannya Bhante Dhamasubbo memberikan pesan kepada peserta dan tamu undangan yang berhadir, mulai dari Veteran, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, mahasiswa dan aktivis, beliau mengatakan “ Kalau ada dua saudara yang bertikai, maka yang untung adalah orang ketiga “.
Kegiatan ini ditutup dengan pemberiaan bingkisan dan santunan kepada sejumlah Veteran dan keluarga Veteran, serta beberapa anak yatim yang diundang. ( arif riduan )