Palidangan ( LK3 )

Wednesday, October 11, 2017

Perjuangan Seorang Wanita Melawan Tambang

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa orang-orang yang bekerja di pertambangan " dalam tanda kutip " di jabatan-jabatan tertentu sungguh memiliki beberuntungan yang lebih dari orang-orang pekerja biasa, baik segi kemewahan atau pun gaya hidup. Banyak orang yang beranggapan bekerja di pertambangan akan memiliki masa depan yang cerah, harta yang berlebih dan hidup enak, sehingga banyak orang memutuskan untuk bekerja di pertambangan, khususnya di Kalsel.  Mengenai hal itu kita semua tidak bisa melarang.

Namun apakah pernah kita melihat tentang sisi lain dari adanya aktivitas pertembangan yang ada di Kalsel ini ?. Dari sisi kerusakan lingkungan misalnya ? atau dari sisi kisah-kisah menyedihkan tentang korban lahan sengketa tanah yang wilayah yang“ disebut-sebut “ milik perusahan pertambangan ?.

Untuk melihat sisi lain itu, Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman ( FKPAI ) Kalsel dan WALHI Kalsel mengajak segala lapisan anak muda dari berbagai kalangan organisasi dan agama untuk menonton film dan berdiskusi tentang Film BARA DI BONGKAHAN BATU, yang dibuat oleh Walhi Kalsel.

Film ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang harus tetap menghidupi anak-anaknya ditengah perjuangannya mempertahankan haknya dari perusahaan pertambangan. Bukan hanya itu, film ini juga bercerita tentang kerusakan lingkungan serta hilangnya aset-aset seperti sekolah dan tempat ibadah semenjak adanya aktivitas pertambangan.Pada akhir film ini menceritakan tentang seorang pemimpin daerah yang sampai saat ini berkomitmen menolak perusahaan tambang dan sawit di wilayahnya.

Diskusi yang dihadiri puluhan aktivis mahasiswa dari berbagai kalangan organisasi dan lintas agama ini di Narasumberi oleh Budi Kurniawan, selaku produser film Bara di Balik Bongkahan Batu dan Kisworo, selaku Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel. Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor LK3 Banjarmasin, Senin 9 Oktober 2017.

pertanyaannya adalah, yang kaya itu siapa ? rakyat kecil tentu bukan ! kalau tertindas itu iya







Arif Riduan